Belakangan ini, rasanya cukup sulit untuk menerima diri sendiri apa adanya. Bergaul dengan orang banyak membuat kita terlalu membanding-bandingkan apa yang dimiliki dan apa yang tidak. Keterlaluan sebenarnya jika pada kenyataannya kita hanya berpura-pura menjadi diri sendiri saat berada di kerumunan. Namun saat berada di private place, kita malah menjadi orang yang tak karuan menyalahkan diri sendiri.
Berkaca dari pengalaman sendiri.
Tidak ada orang yang cukup sempurna untuk menjadi yang diinginkan orang lain. Begitu mudahnya diri ini untuk bersedih dan berpikir bahwa semuanya sudah salah sejak garis start. Melihat orang lain yang bisa berada di level yang lebih tinggi, lalu diri berkata; mengapa bukan aku?
Putaran kehidupan selalu saja seperti itu. Selalu melihat siapa yang lebih di atas, serta melupakan hal yang seharusnya lebih penting. Mencintai diri sendiri. Kapan kita sadar bahwa level kehidupan setiap orang itu berbeda? Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu menetapkan standar kebahagiaan semua orang. Karena bahagia itu sendiri berawal dari jiwa yang menerima. Menerima segala hal, entah keadaan, fisik, mental, dan lain-lain.
Terkadang orang hanya melihat sisi yang dapat dilihat dengan mata dan hal itu memang benar bahwa mereka hanya melihat 1% cuplikan dari hidup kita. Mereka hanya melihat kesuksesan tanpa menyadari betapa sakitnya seseorang di balik layar wajah yang tersenyum. Jika kita terus melihat orang lain, lantas kapan kita akan bahagia? Kapan kita akan bersyukur atas apa yang sudah terjadi di hidup ini? Kenapa kita selalu ingin memutar waktu agar hal ini atau hal itu yang seharusnya terjadi?
Kembali tentang kebahagiaan. Satu dan lain orang memiliki standar yang berbeda-beda. Saya pernah membaca sebuah unggahan twitter. "Ada yang mendapat uang sepuluh ribu saja sudah bahagia. Ada yang bisa membeli sendal saja sudah bahagia. Ada yang bahagia karena putus hubungan dengan kekasih. Bahkan ada orang-orang di luar sana yang bahagia walau hanya bisa membagi satu telur dadar untuk lima orang."
Memang dunia saat ini sudah dipenuhi oleh standar-standar duniawi. Standar kecantikan, kepintaran, bahkan kekayaan. Tidak dipungkiri bahwa banyak orang yang diserang oleh rasa anxiety atau biasa dibilang insecure, hanya karena melihat orang lain yang bisa memiliki apa yang dia tidak miliki. Saya pernah berada di posisi tersebut. Saya terus menyalahkan keadaan, kenapa dulu tidak begini, kenapa awalnya tidak memilih ini. Sampai detik ini saya menyadari bahwa awal yang saya telah lakukan ternyata tidak buruk juga.
Berada di titik di mana rasa malu menyelimuti diri karena tidak mampu mencapai ekspektasi orang lain terhadap saya. Beberapa orang berharap saya berada di tempat yang jauh lebih baik dan lebih berkelas dari yang sekarang (walaupun orang tua saya tidak pernah menuntut). Ekspektasi adalah suatu hal yang selalu saya hindari. Saya sudah sering diajarkan untuk "do not set the bar too high" karena jika tidak mendapatkannya, ujung-ujungnya hanya ada rasa kecewa. Saya terus mengejar hal tersebut tanpa memikirkan diri sendiri. Saya terlalu ingin orang lain puas terhadap pencapaian-pencapaian saya. Tapi kembali lagi ke pertanyaan: Apa diri ini akan bahagia jika berhasil mencapainya?
Sekarang, saya sudah cukup bahagia dengan kegiatan-kegiatan yang tentunya tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Berada di sekitar orang-orang yang sebenarnya juga memiliki kisah yang sama dengan saya. Perkuliahan memang ternyata berat, namun dengan menjalani hal yang sebenarnya saya suka; penelitian dan laboratorium; adalah satu hal yang setidaknya cukup membuat saya puas. Mengerjakan tugas dan dikejar deadline bukanlah sesuatu yang saya keluhkan karena memang jalan ini yang saya mau. Ekspektasi ini yang saya dambakan. Sudah berhenti menyalahkan diri dan sudah berhenti berusaha mengejar ekspektasi orang lain. Toh, mereka hanya melihat pencapaian tersebut tanpa tahu apakah saya akan bahagia dan nyaman di sana. Masalah pekerjaan dan cita-cita? Tenang, saya masih maba.
Sekali lagi saya tekankan untuk semua orang di luar sana yang masih berusaha dipandang orang, lari dan tenangkan dirimu. Hanya kamu dan jiwamu yang tahu apa yang sebenarnya membuatmu bahagia. Lari. Lari jika itu menyiksamu. Lari jika semua yang kamu lakukan adalah untuk orang lain. Hiduplah sebagaimana kamu merasa hidup.
—Maba Bioteknologi UB, 2020 (Sudah bahagia).
Comments
Post a Comment