Duduk termenung seorang wanita cantik nan anggun di teras rumah sembari menatap kosong lampu remang-remang di malam yang sunyi. Ialah Inggit Garnasih, seorang kembang desa pada masa itu. Terbangunlah ia dari lamunannya, saat suaminya, Sanusi, menyuruhnya untuk membuat kopi. Tentu saja untuk menemani malam terakhir mereka sebagai insan yang dipersatukan.
“Aku lelah, tolong buatkan kopi secangkir. Kali ini kurangi gulanya,” ujar Sanusi tanpa menoleh sedikitpun.
“Aku akan segera kembali,” balas Inggit seraya pergi menuju dapur.
Selagi mengaduk kopi panas, Inggit berpikir apakah berpisah dengan Sanusi adalah keputusan yang tepat. Ia takut terhadap karma, namun benar adanya bahwa ia tak lagi mencintai Sanusi karena sudahlah hambar hidup rumah tangga mereka. Ditambah kehadiran seorang lelaki beristri baru-baru ini yang membuatnya semakin mantap untuk mengakhiri hubungan dengan Sanusi. Lagi-lagi ia takut terhadap karma, lelaki beristri, gumamnya.
Tepat sehari setelah kopi terakhir di malam itu, Inggit dan Sanusi resmi bercerai secara baik-baik dan disaksikan oleh keluarga dari kedua belah pihak. Di waktu yang sama, di tempat berbeda, pun resmi bercerai dua orang insan yang dahulu mencinta, ialah Soekarno dan Siti Oetari. Sungguh waktu yang tepat bagi dua orang yang terpaut 13 tahun untuk bersatu membangun rumah tangga yang diidam-idamkan. Di sinilah perjuangan mereka diuji melawan kerasnya dunia. Tak terhelakkan, rasa cinta Inggit kian membesar pada Sukarno tak peduli seberapa besar pula kerikil menghujam hidup mereka berdua.
Desember 1929, Soekarno ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Banceuy di Bandung. Inggit terus menyemangati dan membantu Soekarno tanpa kenal lelah. Setiap hari ia berjalan jauh ke penjara sembari membawakan makanan bagi suaminya tercinta. Kerap kali ia juga menyelipkan lipatan uang agar Soekarno bisa membujuk penjaga untuk membelikan surat kabar untuknya.
“Hari ini kubawakan hasil berjualan jamu. Alhamdullilah cukup untukmu, Mas,” bisik Inggit sambil menggenggam tangan dingin Soekarno. Sungguh malang, cinta terhalang jeruji sel.
“Terima kasih, Inggit. Jaga rumah kita dengan baik, aku akan kembali.”
Esoknya, Soekarno meminta untuk dibawakan buku-buku yang dibutuhkannya untuk menciptakan sebuah masterpiece yang berjudul “Indonesia Mengguggat”. Supaya berhasil diterima langsung oleh tangan Soekarno, Inggit haruslah berhati-hati agar tidak diketahui petugas yang berjaga. Sangat runyam, pikir Inggit.
Demi suami yang dicinta, apapun dilakukannya. Inggit berpuasa selama lima hari agar buku-buku tersebut bisa ia selipkan di bajunya. Satu per satu buku tersebut sampai di tangan Soekarno. Memang memperjungkan cinta tidaklah mudah. Bagai seekor burung, ia membutuhkan dua sayap yang bekerja sama kuatnya untuk mencapai puncak tertinggi. Demikian perumpamaan dua insan ini.
Tak putus sampai berpuasa, Inggit menggunakan bungkus lintingan rokok untuk menyampaikan pesan Soekarno kepada para aktivis. Selama Soekarno di bui, seorang Inggit sajalah yang menjadi tulang punggung keluarga, terutama untuk dua anak angkatnya. Kesana kemari ia berjalan menyusuri rumah penduduk menawarkan jamu racikannya, bedak, rokok buatannya sendiri, jasa menjahit, dan apapun yang bisa ia lakukan demi keluarganya.
Sampai pada saatnya Soekarno dipindah ke pembuangan di Bengkulu, pada 1938. Inggit turut menyertai setiap perjuangan Soekarno sebagai istri yang amanah. Namun peringai lelaki tetap tak bisa dipungkiri. Soekarno menaruh pandang kepada seorang wanita bernama Fatmawati yang ia temui di Bengkulu. Ya, gadis Bengkulu yang parasnya memikat. Tahun 1942 Soekarno dibebaskan dan kembali ke Jakarta. Kandaslah rasa bahagia Inggit saat mendengar pernyataan Soekarno yang mengiris hatinya.
“Bolehkah aku memperistri Fatmawati? Aku tidak bermaksud menyingkirkanmu. Merupakan keinginanku untuk menetapkanmu dalam kedudukan paling atas dan engkau tetap sebagai istri yang pertama,” ucap Soekarno meminta ijin.
“Aku tak ingin dimadu, Mas. Lebih baik aku mundur saja.” Balas Inggit dengan suara lirih dan tetes air mata melewati pipinya yang mulai berkerut.
Urusan hati memang pelik, apalagi kalau sudah cinta mati. Entah mengapa lelaki seringkali menyia-nyiakan hati tulus seorang wanita. Aneh.
Namun ialah Inggit Garnasih, seorang wanita berpendirian dan bertekad kuat. Ia enggan dimadu. Memangnya siapa yang rela diduakan?
“Aku ingin mempunyai keturunan dari darahku sendiri, Inggit. Itu kerinduanku.”
Memang benar adanya bahwa Inggit mandul. Tak sampai hati ia melihat Fatmawati yang masih kemerahan, dipinang oleh Soekarno. Segala macam pertengkaran telah dikumandangkannya, tangisan telah ditumpahkannya, namun apalah daya, tangannya tak sekuat Soekarno. Disetujuinyalah perceraian tersebut dengan berat hati. Terlintas di benaknya, apakah ini karma? Sampai saat ini tak mampu dijawabnya.
Kesedihan dan kesengsaraan yang diarungi selama hampir 20 tahun tak dirasakan buahnya sampai Soekarno mencapai masa kejayaan. Selesai sudah tugasnya, mengantarkan Soekarno menuju gerbang kemenangan. Baiklah kita mulai mengingat perjuangan seorang yang tak terlihat oleh dunia, Ibu Inggit Garnasih.
Comments
Post a Comment